I. JUDUL PROGRAM
Substitusi Kacang Kedelai Dengan Kacang Turi Terhadap Pembuatan Tahu Sutra Yang Memiliki Tingkat Kekenyalan Lebih Tinggi.
II. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bahan makanan olahan yang berbahan baku nabati sangatlah jarang, salah satunya adalah pemanfaatan kedelai sebagai bahan baku utama tahu. Tahu merupakan hasil olahan dari bahan baku kacang kedelai melalui proses pengendapan atau penggumpalan oleh bahan penggumpal. Untuk membantu rakyat indonesia yang mengalami defisiensi protein, dari bahan pangan hewani yang merupakan sumber utama protein, tahu ikut menunjang peranan dalam pola makanan sehari-hari di Indonesia baik sebagai lauk pauk maupun sebagai makanan ringan.
Kacang kedelai sebagai bahan dasar pembuatan tahu mempunyai kandungan protein sekitar 30 sampai dengan 45 persen. Dibandingkan dengan kandungan protein bahan pangan nabati lainnya bahkan hewani, kedelai cukup unggul jumlah proteinnya. Sebagai contoh daging memiliki kandungan protein 19 persen, ikan 20 persen dan telur sebesar 13%.
Selain kacang kedelai ada lagi kacang yang berasal dari genus yang sama dengan kedelai, yaitu kacang turi. Biji turi (Sasbania Gandiflora) adalah salah satu jenis kacang-kacangan dari pohon turi yang berbentuk bulat berwarna kuning kecoklatan dan mempunyai rasa yang khas dan aroma yang khas jenis kacang-kacangan. Biji turi berasal dari bunga turi yang sudah tua dan tidak dipetik dan berbuah biji yang berbentuk seperti kacang panjang tetapi berkulit tebal dan bijinya menyerupai kedelai. Biji turi kurang dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga banyak biji turi yang sudah tua dan dibiarkan berjatuhan. Biji turi yang kering paling bagus kualitasnya yaitu kacang turi yang kering dipohon, proses pengeringan dipohon memerlukan waktu relatif agak lama yaitu kurang lebih 3 bulan.
Proses pembuatan tahu terdiri dari dua bagian, yaitu pembuatan susu kedelai dan penggumpalan proteinnya. Susu kedelai dibuat dengan merendam kedelai dalam air bersih. Perendaman dimaksudkan untuk melunakkan struktur selular kedelai sehingga mudah digiling dan memberikan dispersi dan suspensi bahan padat kedelai lebih baik pada waktu ekstraksi. Perendaman juga dapat mempermudah pengupasan kulit kedelai akan tetapi perendaman yang terlalu lama dapat mengurangi total padatan. Kedelai yang telah direndam kemudian dicuci, digiling dengan alat penggiling bersama-sama air panas (800C ) dengan perbandingan 1 : 10. Bubur kedelai yang dihasilkan selanjutnya disaring dan filtratnya didihkan selama 30 menit pada suhu 100 – 110 0 C. Susu kedelai yang dihasilkan kemudian digumpalkan. Zat penggumpal yang dapat digunakan adalah asam cuka, asam laktat, batu tahu (CaSO4) dan CaCl2 ( Koswara, 1992).
Disamping sebagai zat penggumpal, asam cuka juga berperan sebagai pengawet dimana asam akan menurunkan pH bahan pangan sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk dan jumlah asam yang cukup akan menyebabkan denaturasi protein bakteri. Asam cuka juga dapat berfungsi untuk menambah cita rasa, mengurangi rasa manis dan dapat pula memperbaiki tekstur (Winarno, 1984).
Berdasarkan pengamatan harga kacang kedelai sangatlah berfluktuatif dan cenderung mahal, sehingga tahu yang berbahan baku kedelai sudah cukup mahal. Tahu yang sebelumnya merupakan makanan utama sebagai penyeimbang gizi dan lauk pauk favorit bagi rakyat Indonesia, sekarang sudah menjadi makanan yang umum dan tidak bersahabat dengan kantong rakyat Indonesia bertaraf hidup menengah kebawah. Oleh karena itu penelitian mengenai aplikasi kacang turi pada produk tahu menjadi hal yang esensial dilakukan.
B. PERUMUSAN MASALAH
Kacang turi merupakan komoditas kaya protein yang belum dimanfaatkan secara maksimal bahkan tidak dikenal secara umum oleh masyarakat Indonesia kebanyakan, sehingga dibutuhkan alternatif pemanfaatannya. Oleh karena itu diperlukan inovasi aplikatif untuk memanfaatkan kacang turi yang memiliki karakteristik mirip dengan kedelai dan kandungan protein yang hampir sama dengan kedelai. Tahu merupakan produk pangan yang memiliki syarat harus berbahan baku protein tinggi untuk dapat menggumpal dan disaring wheynya, maka kacang turi memiliki kualifikasi untuk menjadi pengganti kedelai. Namun diperlukan acuan mengenai apakah bisa semua bahan baku utama dapat diganti dengan kacang turi, atau dilakukan prosentase pembagian komposisi kacang kedelai dengan kacang turi, serta bagaimana karakteristik produk yang akan dihasilkan. Selain itu, apakah ada pengaruh terhadap penyimpanan dengan adanya substitusi bahan baku tahu.
C. TUJUAN PROGRAM
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Meningkatkan daya guna kacang turi dalam membuat produk pangan,
2. Mengenalkan kacang turi yang kurang dikenal masyarakat,
3. Menentukan formulasi kacang turi yang dapat diaplikasikan pada kerupuk tersebut,
4. Menganalisa karakteristik produk-produk yang telah diaplikasikan kacang turi menggunakan metode perendaman dan penggumpal yang berbeda,
5. Menganalisa karakteristik produk tahu kacang turi selama penyimpanan.
D. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Meningkatkan daya guna kacang turi,
2. Produk tahu yang telah diaplikasikan kacang turi yang karakteristiknya sesuai dengan standar yang berlaku,
3. Produk yang dihasilkan dapat diterima secara organoleptik,
4. Karakterisitik produk selama penyimpanan.
E. KEGUNAAN PROGRAM
Kegunaan dari penelitian ini adalah:
1. Melatih kekompakan tim dan menambah pengalaman tim di bidang pengembangan produk pangan,
2. Turut mewujudkan Tri Dharma Institut Pertanian Bogor khususnya bidang penelitian dan pengabdian masyarakat,
3. Produk baru yang dapat meningkatkan daya guna kacang turi
III. TINJAUAN PUSTAKA
A. KACANG TURI
Biji turi (Sasbania Gandiflora) merupakan jenis kacang-kacangan atau biji-bijian yang merupakan bagian dari pohon turi. Biji turi selama ini dibiarkan bergelantungan, sampai kering sendiri dipohon. Hal ini menandakan bahwa masyarakat belum memanfaatkan secara maksimal dan dari pengamatan peneliti belum ada yang memperdagangkannya, walaupun ada itu hanya sebagai bibit.
Biji turi yang kering paling bagus kualitasnya yaitu kacang turi yang kering dipohon, proses pengeringan dipohon memerlukan waktu relatif agak lama yaitu kurang lebih 3 bulan. Setelah 3 bulan biji turi baru dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan antara lain dapat sebagai bahan dasar pembuatan kembang tahu dan juga makanan olahan lain. (Sukardi,dkk. 1997 dalam habitat volume 8 No 100).
a. Ciri-ciri Biji turi yang tua
Biji turi yang tua dan sudah dapat dimanfaatkan sebagai makanan olahan yaitu yang sesuai dengan cirri-ciri kacang turi yaitu kulit luarnya sudah kering sehingga mudah dikupas dari kulit luar,kacang turi berwarna coklat kekuningan, bentuk kacang bulat utuh dan mulus tanpa ulat dan serangga, aroma biji langu.
b. Kandungan gizi biji turi
Biji turi merupakan bahan makanan nabati yang belum banyak dimanfaatkan, dan kandungan gizi dari biji turi belum tercantum dalam Daftar Komposisi Bahan Makanan yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI. Namun demikian kandungan gizi biji turi telah diujikan
di Laboratorium Balai Perindustrian dan Standarisasi Mutu Pangan di Semarang. Maka dapat diketahui gizi biji turi
pada tabel 1, berikut ini :
Tabel 1. Daftar Komposisi Kandungan Gizi Biji Turi dalam 100 gram
|
No.
|
Parameter
|
Satuan
|
Hasil Uji
|
|
1
|
Air
|
%
|
10,14
|
|
2
|
Lemak
|
%
|
7,10
|
|
3
|
Protein
|
%
|
36,21
|
|
4
|
Serat kasar
|
%
|
12,64
|
|
5
|
Kalsium
|
%
|
0,90
|
Sumber : Hasil Uji Laboratorium 2004
Adapun kelebihan dari biji turi adalah mudah didapat dan memiliki kandungan gizi yang tinggi yaitu sebesar 36,21 % tiap 100 g. Dilihat dari kandungan gizinya dan mudah untuk memperolehnya dalam jumlah yang banyak, harga yang relatif murah, biji turi dapat ditingkatkan pemanfaatannya sebagai bahan dasar pembuatan tahu, sebagai pengganti kedelai yang harganya mahal dan masih mengimpor. Pemilihan bahan ini dalam pembuatan tahu harus memperhatikan kualitas dan kuantitas bahan, agar tidak kalah dengan kedelai.
B. TAHU
Tahu merupakan hasil koagulasi atau penggumpalan dan pengendapan protein susu kedele. Selain mengandung protein kedele, dalam endapan tersebut terdapat juga lemak, karbohidrat, dan zat -zat gizi lain. Tahu dikenal masyarakat sebagai makanan sehari-hari yang umumnya sangat digemari serta mempunyai daya cerna yang tinggi. Keuntungan lain pada pembuatan tahu adalah berkurangnya senyawa anti tripsin (tripsin inhibitor) yang terbuang bersama dan rusak selama pemanasan. Disamping itu, adanya proses pemanasan juga dapat menghilangkan bau langu kedelai.
Proses pembuatan tahu meliputi pemilihan kedele, penimbangan, perendaman dalam air panas, penggilingan dan penambahan air panas, perebusan, penyaringan dan pengepresan, penggumpalan, pembuangan whey pencetakan. Ekstraksi kedele pada pembuatan tahu, pada prinsipnya sama dengan susu kedele. Sari kedele yang diperoleh dari ekstraksi dan penyaringan kemudian digumpalkan dengan cara menambahkan larutan asam. Larutan asam
yang biasa digunakan adalah asam asetat atau cuka makan dan asam laktat. Sebagai zat penggumpal secara tradisional biasanya digunakan biang, yaitu cairan yang keluar pada waktu pengepresan dan sudah diasamkan semalam. Pada pembuatan tahu Cina, biasanya digunakan sioko.
1. Sifat Tahu
tahu bersifat mudah rusak (busuk). Disimpan pada kondisi biasa (suhu ruang) daya tahannya rata-rata 1 – 2 hari saja. Setelah lebih dari batas tersebut rasanya menjadi asam lalu berangsur-angsur busuk, sehingga tidak layak dikonsumsi lagi. Akibatnya banyak usaha yang dilakukan produsen tahu untuk mengawetkannya, termasuk menggunakan bahan pengawet yang dilarang, misalnya formalin.
Penyebab mengapa tahu mudah rusak adalah kadar air dan protein tahu tinggi, masing-masing 86 persen dan 8 – 12 persen. Disampang kandungan lemak 4.8 persen dan karbohidrat 1.6 persen. Kondisi ini mudah mengundang tumbuhnya jasad renik pembusuk, terutama bakteri.
Tahu idealnya memiliki tekstur kenyal dan licin. Akan tetapi ada beberapa jenis tahu yang memiliki tingkat kekenyalan rendah seperti tahu sutra dan tahu yang memiliki tingkat kekenyalan tinggi, bahkan bisa dikatakan liat seperti tahu sumedang. Menurut Lee dan Rha (1979), tekstur tahu sangat tergantung pada kondisi penggumpalan misalnya pH, suhu, bahan penggumpal dan tingkat denaturasi protein. Rendahnya kadar protein mengakibatkan rasa yang kurang disukai dan aroma yang tidak khas. Kadar protein yang terlalu tinggi juga mengakibatkan rasa dan aroma yang kurang disukai karena munculnya bau langu.
2. Bahan Baku Tahu
a. Kacang Kedelai
Kacang kedelai adalah bahan baku utama untuk membuat tahu. Kacang kedelai adalah sumber protein nabati yang paling murah. Kandungan proteinnya berkisar antara 30,53% sampai 44%, dengan susunan asam amino yang lebih lengkap dan seimbang dibandingkan dengan jenis kacang-kacangan yang lain. Sedangkan kadar lemaknya berkisar antara 7,5% sampai 20% sebagian besar tersusun dari asam-asam lemak tidak jenuh yang bermafaat bagi tubuh manusia. Selain mengandung zat gizi protein tersebut, kedelai juga mengandung senyawa anti gizi dan menjadi penyebab utama timbulnya rasa/bau langu yang tidak disukai, terutama pada kacang yang belum tua.
b. Air
Air (H20) adalah komponen penting dalam produk pangan karena dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, tingkat kerenyahan produk akhir serta cita rasa makanan. Reaksi pembentukan gel memerlukan air sebagai penentu tingkat keberhasilan produk yang diinginkan (Winarno, 1992). Air memiliki manfaat khusus dalam pengolahan tahu, yaitu digunakan untuk mengekstrak atau melarutkan bahan-bahan terlarut dalam biji kedelai seperti karbohidrat, lemak, protein, dan lain-lain. Air dan penggunaan suhu tinggi dapat berpengaruh pada kecepatan reaksi dan kecepatan pelarutan bahan (Graham, 2000).
c. Sodium Bikarbonat
Sodium bikarbonat atau soda kue digunakan untuk menghilangkan zat anti tripsin pada susu kedele. Soda kue juga dapat mengurangi bau langu dan mencegah agar kedele tidak asam selama proses perendaman. Konsentrasi larutan soda kue yang digunakan untuk merendam kedele adalah 0.25 sampai 0.5 persen. Jumlah larutan soda kue yang digunakan sebanyak tiga kali jumlah kedele kering.
d. Asam Asetat
Asam asetat atau asam cuka digunakan sebagai bahan penggumpal protein pada pembuatan tahu. Asam asetat yang digunakan untuk penggumpal tahu biasanya asam asetat 5% sebanyak kurang lebih 16% dari berat kedele kering yang digunakan. Di pasaran, asam asetat dikenal sebagai cuka makan yang dikemas dalam botol-botol gelas maupun botol plastik dengan konsentrasi 25%. Asam asetat juga bisa diperoleh di toko kimia dalam bentuk asam asetat pekat teknis dengan konsentrasi 90%. Untuk membuat tahu, asam pekat tersebut harus diencerkan terlebih dahulu.
e. Batu Tahu
Batu tahu atau kalsium sulfat, biasa juga disebut gips, berfungsi sebagai bahan penggumpal protein kedele pada pembuatan tahu. Bahan tersebut dapat diperoleh di toko-toko bahan kimia atau apotik. Jumlah batu tahu yang digunakan kurang lebih 2.2% dari berat kedele kering. Untuk membuat tahu cina biasanya digunakan sioko yang mengandung kalsium sulfat dan garam dapur.
3. Pengolahan Tahu
a. Perendaman
Perendaman kedelai ini dilakukan selama 3 – 12 jam. Perendaman ini mempunyai tujuan untuk memudahkan pelepasan kulit biji kedelai, sehingga nantinya kedelai benar-benar siap untuk diolah menjadi tahu.
b. Pengupasan
Pengupasan ini bertujuan untuk memisahkan kulit kedelai dengan biji kedelai. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan tanah, debu dan kontaminasi lain yang terdapat pada kulit kedelai.
c. Pencucian atau perendaman kembali
Biji kedelai yang telah terpisah dari kulitnya dicuci kembali sehingga benar-benar bersih dari pengotoran, setelah itu dilakukan perendaman kembali dengan maksud agar biji kedelai tersebut lunak sehingga akan memudahkan dalam proses penggilingan biji kedelai.
d. Penggilingan
Dalam proses penggilingan ini memerlukan air panas (80-1000C) sebagai pelumat sehingga dapat memudahkan dalam proses penggilingan. Perbandingan air panas dengan kedelai yang digiling adalah 8 : 1. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan air sangat besar. Setelah kedelai digiling
akan dihasilkan bubur kedelai.
e. Penyaringan
Bubur kedelai yang dihasilkan kemudian disaring dan menghasilkan filtrat yang akan diproses lagi.
f. Pendidihan
Filtrat yang dihasilkan kemudian dididihkan lagi selama kurang lebih 30 menit sehingga benar-benar masak dan terbentuk protein tahu yang akan menggumpal.
g. Penggumpalan
Setelah proses pendidihan maka dilakukan penggumpalan dengan membiarkan filtrat tahu tersebut dalam suatu wadah sampai terbentuk protein tahu dan air.
h. Penyaringan
Protein tahu dan air yang dihasilkan kemudian disaring. Proses penyaringan ini akan didapatkan protein tahu dan air buangan.
i. Pengepresan
Protein tahu yang dihasilkan kemudian dipress sehingga akan terbentuk tahu padat dalam bentuk lembaran-lembaran.
j. Pemotongan
Lembaran-lembaran tahu kemudian dipotong-potong sesuai dengan selera atau keinginan para konsumen. Kemudian tahu dipasarkan secara langsung ataupun melalui para penjual tahu di pasar.
C. PLASTIK PROPILEN
Tahu yang memiliki lemak didalamnya harus dilindungi terhadap masuknya uap air. Umumnya produk-produk rentan oksigen sehingga harus dikemas dalam kemasan uap air yang rendah untuk mencegah produk teroksidasi dan adanya kemungkinan mikroba masuk, khususnya mikroba yang memiliki sifat tersebar diudara. Sifat plastik PP yang lebih kaku dan tidak mudah sobek dibandingkan plastik PE serta permeabilitasnya yang relatif lebih kecil menjadikan PP banyak digunakan sebagai pengemas produk makanan kering maupun basah.
PP termasuk jenis platik olefin dan merupakan polimer dari propilen. Plastik PP memiliki sifat yang ringan (densitas 0.9 g/cm3), mudah dibentuk, tembus pandang dan jernih. Plastik PP memiliki sidat yang utama adalah tahan terhadap asam kuat, basa kuat, dan mempunyai ketahanan yang baik terhadap minyak dan lemak, stabil pada suhu tinggi, dan cukup mengkilap. Hal ini menyebabkan plastik PP digunakan pada produk pangan berlemak seperti tahu dibandingkan PE (Syareif dan Halid, 1993). Tabel 2 memperlihatkan perbandingan antara plastik PP dan PE.
Tabel 2. Sifat-sifat PP dibandingkan dengan PE
|
Parameter
|
LDPE
|
HDPE
|
PP
|
|
Densitas pada 200C (g/cm3)
|
0.92-0.925
|
0.93-0.96
|
0.90
|
|
Permeabilitas gas (cc/cm/cm2/cmHg)1011
- Nitrogen
- Oksigen
- Uap air
|
20
59
800
|
3
11
180
|
4.4
23
600
|
|
Warna
|
Tidak transparan
|
Tidak transparan
|
Transparan
|
|
Rigiditas
|
Tidak kaku
|
Tidak kaku
|
Kaku
|
D. PERUBAHAN FISIKO-KIMIA SELAMA PENYIMPANAN
Ketengikan
Kerusakan lemak yang utama adalah timbulnya bau danrasa tengik yang disebut proses ketengikan. Hal ini disebabkan oleh otooksidasi radikal asam lemak tidak jenuh dalam lemak. Faktor yang mempercepat ketengikan adalah cahaya, panas, peroksida lemak atau hidroperoksida, logam-logam berat seperti Cu, Fe, CO, dan Mn. Logam feritin seperti hematin, hemoglobin, mioglobin, klorofil, dan enzim-enzim lipoksidase (Winarno, 1992).
Uji ketengikan dapat dilakukan dengan menggunakan uji thiobarbiturat (TBA). Lemak yang tengik akan bereaksi dengan TBA menghasilkan warna merah. Intensitas warna menunujukkan derajat ketengikan (Syarief dan Halid, 1993). Perubahan kimia atau penguraian lemak dan minyak dapat mempengaruhi bau dan rasa bahan makanan. Penyimpangan bau dapat disebabkan oleh adanya senyawa aldehid dan keton hasil penguraian radikal bebas membentuk zat volatile yang bersifat tengik (Winarno, 1992).
IV. METODOLOGI PENELITIAN
A. BAHAN DAN ALAT
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kacang turi, kacang kedelai, belimbing wuluh, sodium bikarbonat, asam asetat, batu tahu, kemasan, serta bahan-bahan untuk uji sifat fisik, kimia, mikrobiologi, dan umur simpan. Alat-alat yang dipakai adalah timbangan, gelas ukur, literan, kain saringan tahu, panci besar, pencetak tahu, kompor, pengaduk kayu, blender, pisau, oven pengering, oven vakum, texture analyzer, pH meter serta peralatan lain untuk uji sifat fisik, kimia, mikrobiologi, uji hedonik dan umur simpan.
B. KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Penelitian diawali dengan sortasi kacang turi dan kedelai yang akan digunakan, sehingga dapat lebih mudah diaplikasikan dalam mencari parameter mutu produk yang akan dibuat. Selanjutnya dilakukan proses perendaman dengan waktu yang beragam, dimulai dari 6jam, 7jam, 9jam, dan 10jam. Hal tersebut dilakukan agar bisa didapatkan waktu perendaman kacang turi yang terbaik dalam pembuatan tahu. Perendaman yang terlalu lama mengakibatkan tingginya kadar air dan rendahnya protein. Hal ini mengakibatkan rasa yang kurang disenangi dan aroma yang kurang khas. Sebaliknya perendaman yang terlalu cepat mengahasilkan kadar protein yang tinggi mengakibatkan timbulnya aroma yang kurang disenangi konsumen (bau langu). Penggumpalan dengan batu tahu akan menghasilkan tekstur yang kompak dimana pori-pori tidak terlalu besar dan permukaan tahu tidak kasar (Lee and Rha, 1979).
Penelitian tahap selanjutnya yaitu mengaplikasikan kacang turi dalam formulasi tahu sebnyak 2,5%, 5%, 10%, 15%, 20%, 30%, serta sebagai kontrol negatif tahu yang tidak dilakukan penambahan kacang turi dan kontrol positif adalah tahu komersial. Sebanyak lima formulasi untuk masing-masing produk dianalisis karakteristiknya (uji fisik dan kimia) setelah mendapatkan proses penggumpalan yang berbeda, yaitu penggunaan asam asetat dan belimbing wuluh. Dan dibandingkan dengan standar mutu. Penggunaan proses penggumpalan yang berbeda diharapkan dapat memberikan taste yang berbeda dan menekan bau langu yang mungkin timbul sehingga tahu tersebut lebih diminati.
Empat formulasi tahu yang memenuhi standar SNI untuk masing-masing metode pemasakkan selanjutnya akan dilakukan uji organoleptik, yaitu uji rating hedonik untuk menentukan formulasi yang paling disukai oleh konsumen serta uji pembedaan sederhana dengan kontrol positif dan kontrol negatif. Uji rating hedonik dan pembedaan sederhana dilakukan terhadap 50 panelis tidak terlatih menggunakan skala garis. Formulasi terbaik ditentukan dari produk yang mendapatkan nilai tingkat kesukaan tertinggi oleh panelis. Sampel dengan formulasi terbaik kemudian dilakukan uji mikrobiologis (total mikroba, koliform, dan kapang-khamir) serta dikemas menggunakan plastik polipropilen (PP) kemudian disimpan dalam inkubator bersuhu kamar (300C) dan dilakukan pengujian karakteristik selama 5 hari penyimpanan yang meliputi uji fisik, kimia, mikrobiologi dan organoleptik yang dianalisis setiap hari. Uji fisik meliputi pengamatan kekenyalan dan Aw. Uji kimia meliputi kadar air, TBA, dan bilangan peroksida. Uji organoleptik meliputi uji rating hedonic dan uji pembedaan sederhana. Secara ringkas, kerangka konsep penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
|
PEMBUATAN KONSENTRAT BELIMBING WULUH MEMENGGUNAKAN EVAPORASI
|
|
UJI KIMIA
Gambar 1. Diagram Alir Kerangka Konsep Penelitian
|
|
PENGUKURAN EMPAT FORMULASI PERENDAMAN KACANG TURI
|
|
PEMBUATAN ENAM FORMULASI TAHU
|
|
PEMILIHAN EMPAT FORMULASI YANG SESUAI STANDAR
|
|
PENYIMPANAN SELAMA LIMA HARI
|
|
PROSES PENGGUMPALAN PROTEIN
|
C. RANCANGAN PERCOBAAN
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 6X2 dengan tiga kali ulangan dan pengukuran dilakukan duplo untuk masing-masing ulangan. Rancangan percobaan ini digunakan untuk melihat pengaruh penambahan kacang turi dan proses penggumpalan terhadap parameter sifat fisik dan kimia. Selanjunya data akan diolah menggunakan analysis of variance (ANOVA) dengan bantuang program SPSS 12. Apabila sampel berbeda nyata maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan. Rancangan percobaan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Yijk(n) = μ + Ai + Bj + (AB)ij + Eij(n)
Keterangan:
Yijk(n) = Respon percobaan karena pengaruh bersama taraf ke-i faktor A, taraf ke-j, faktor B
μ = nilai tengah umum
Ai = pengaruh perlakuan A (penambahan kacang turi) pada taraf ke i (2.5%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 30%)
Bj = pengaruh perlakuan B (metode pengolahan) pada taraf ke-j (penggumpalan)
(AB)ij = pengaruh interaksi taraf ke-i faktor A dan taraf ke-j faktor B
Eij(n) = pengaruh kesalahan percobaan pada ulangan ke-n karena pengaruh Ai, Bj dan (AB)ij
D. METODE PENELITIAN
1. Pembuatan konsentrat belimbing wuluh
Selama ini ditempat-tempat produksi pembuatan tahu bahan penggumpal yang digunakan adalah asam cuka, namun sebenarnya ada alternatif lain pengganti asam cuka sebagai bahan penggumpal pada pembuatan tahu yaitu asam sitrat dan belimbing wuluh, selain mempunyai sifat (asam) dan daya guna yang sama kedua bahan ini juga mudah penyediaan dan penggunaannya. Pemanfaatan belimbing wuluh selama ini kurang optimal, terutama pada saat musim panen belimbing wuluh. Untuk meningkatkan nilai ekonomis dari belimbing wuluh salah satunya adalah dengan digunakan sebagai bahan penggumpal pada pembuatan tahu.
Koagulasi protein dalam larutan kedelai hanya bisa terjadi di dalam kondisi asam, maka penggunaan belimbing wuluh sebagai penggumpal protein dalam pengolahan tahu sangatlah mungkin dilakukan. Untuk mengontrol tingkat keasaman konsentrat dapat dilakukan dengan melakukan evaporasi sehingga kekentalan konsentrat semakin meningkat berbanding lurus dengan turunnya pH konsentrat. Gambar 2 menjelaskan langkah-langkah dalam pembuatan konsentrat belimbing wuluh yang menggunakan proses evaporasi.
Belimbing wuluh
Sortasi
Cuci menggunakan air mengalir
Penggilingan
Pengeringan menggunakan oven pengering 60oC selama 1 jam
Konsentrat belimbing wuluh
Ukur pH
Gambar 2. Proses pembuatan konsentrat belimbing wuluh
2. Formulasi Tahu Kacang Turi
Formulasi pembuatan tahu kacang turi menggunakan beberapa taraf penambahan kacang turi, yaitu sebesar 2.5%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 30% serta sebagai kontrol negatif kerupuk yang tidak dilakukan penambahan kacang turi (0%). Secara garis besar poroses pembuatan tahu kacang turi dapat dilihat pada Gambar 3.
|
Kacang turi sesuai formulasi
|
|
Dipanaskan dengan suhu 800C
|
|
Diberi konsentrat belimbing wuluh
|
|
Direndam sesuai formulasi
|
|
Air 300%, sodium bikarbonat 0,5%, asamasetat 5%, dan kacang kedelai 100 gram
|
Gambar 3. Proses pembuatan tahu kacang turi
3. Metode analisis
a) Analisis sifat kimia
1) Kadar air (AOAC, 1995)
Pengukuran kadar air dilakukan dengan menggunakan metode oven. Langkah awal pengukuran kadar air dengan mengeringkan cawan alumunium pada suhu 100 0C selama 15 menit, kemudian dikeringkan di dalam desikator selama 10 menit. Cawan alumunium kemudian ditimbang dengan menggunakan neraca analitik (a gram). Sebanyak 2-10 gram (x gram) sampel ditimbang dalam cawan alumunium yang telah diketahui bobot kosongnya. Kemudian dikeringkan dalam desikator dan ditimbang sampai diperoleh bobot konstan (y).
|
Kadar air (%wb)= x-(y-a) x 100
x
|
|
Kadar air (%db)= x-(y-a) x 100
(y-a)
|
Keterangan: %wb = kadar air per bobot basah
%db = kadar air per bobot kering
2) Kadar abu (AOAC, 1995)
q Cawan porselen dikeringkan dengan tanur pada suhu 500 0C selama satu jam, kemudian dikeringkan dalam desikator. Cawan porselen kemudian ditimbang dengan timbangan analitik (a gram). Sebanyak 2 gram sampel (w gram) ditimbang dalam cawan porselen yang telah diketahui bobot kosongnya. Sampel diarangkan di dalam hot plate selama 30-60 menit sampai tidak berasap. Kemudian dimasukkan ke dalam tanur bersuhu 600 0C selama 2 jam, lalu didinginkan dalam desikator dan ditimbang (x gram).
|
Kadar abu (%b.b)= x-a X 100
w
|
3) Kadar protein (Metode Kjeldahl) (AOAC, 1995)
Contoh sebanyak 0.1-0.15 gram ditimbang dan dimasukkan ke dalam labu Kjehdall, ditambahkan 1.9 gram campuran K2SO4, 40 mg HgO, dan 2 ml H2SO4 pekat, kemudian dididihkan dalam digestion system hingga larutan menjadi jernih. Labu didinginkan dan ditambahkan 10 ml NaOH 60%. Destilat ditampung dalam 5 ml asam borat yang telah dicampur dengan lima tetes indikator MB:MM. Destilasi dilakukan selama 15 menit atau sampai volume penampung mencapai 50 ml. Larutan dititrasi dengan HCl 0.02 N.
|
Kadar protein (%b.b)= (V HCL-Vblanko) X N HCL X 14.007 X FK X 100
Bobot contoh (mg)
|
Keterangan: FK= Faktor koreksi (= 5.71)
4) Kadar lemak metode hidrolisis (AOAC, 1995)
Contoh sebanyak 10 gram ditambahkan air panas sebanyak 45 ml, dan HCl 25% sebanyak 55 ml. Sampel dipanaskan selama 15 menit. Sesudah dipanaskan, disaring dengan menggunakan kertas saring dan dikeringkan dalam oven 105 0C selama 3 jam. Analisa dilanjutkan dengan metode soxhlet, dimana sampel dimasukkan ke labu soxhlet dan diisi dengan ± 30 ml heksana, lalu direfluks 5-6 jam. Setelah itu dipanaskan pada oven 105 0C selama 30 menit atau sampai dengan pelarut pada labu lemak menguap semua. Labu lemak didinginkan dalam desikator dan ditimbang beratnya.
|
Kadar lemak (%b.b)= b1-b0 X 100
a
|
Keterangan:
a = bobot contoh (g)
b0 = bobot kosong labu lemak (g)
b1 = bobot labu lemak berisi lemak (g)
5) Kadar karbohidrat (metode by difference) (AOAC, 2005)
Kadar karbohidrat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Kadar karbohidrat (%b/b) = 100 – ( %air + %abu + %protein + %lemak)
6) Uji daya cerna protein (Owusu-Apenten, 2002)
Daya cerna protein dalam produk diketahui dengan menggunakan metode multienzim. Larutan campuran enzim dibuat dengan mencampurkan 16 mg tripsin, 31 mg kimotripsin, dan 13 mg peptidase dalam akuades pada suhu 370C. larutan tersebut kemudian distandarkan pada pH 8 menggunakan NaOH dan HCl sampai volumenya 10 ml. Bubuk pupa sebanyak 62.5 mg dilarutkan dalam 8 ml akuades dan direndam selama 1 jam pada suhu 370C. Nilai pH diatur dengan menambahkan HCl dan NaOH sampai volume 10 ml. Larutan campuran enzim ditambahkan sebanyak 1 ml dan diinkubasi selama 10 menit pada suhu 370C dan dicatat perubahan pHnya. Apparent protein digestibility (APD) dihitung dengan menggunakan rumus:
APD (%) = 210.46 – 18.10 pH(10 menit)
7) Kadar thiobarbituric acid (TBA) (Tarladgis et al., 1969)
Pengukuran bilangan TBA dilakukan untuk mengetahui terjadinya ketengikan melalui pengukuran kadar malonaldehida yang terbentuk. Sampel kerupuk ditimbang 3 gram, lalu dimasukkan ke dalam blender kemudian ditambahkan 50 ml akuades dan dihancurkan selama 2 menit. Larutan dipindahkan kedalam labu destilasi 1000 ml sambil dicuci dengan 48.5 ml akuades. Larutan ditambahkan 1.5 ml HCl (4 mol) sampai pH menjadi 1.5 lalu ditambahkan batu didih dan sedikit bahan pencegah buih (antifoam) kedalam labu destilat. Destilasi dilakukan dengan pemanasan selama 10 menit hingga diperoleh destilat sebanyak 50 ml. Destilat yang diperoleh disaring kemudian diambil 5 ml lalu dipindahkan dalam labu Erlenmeyer berukuran 50 ml. Sebanyak 5 ml reagen TBA (0.02 M thiobarbituric-acid dalam 90% asam asetat glasial) lalu ditutup. Tabung dipanaskan selama 35 menit dalam air mendidih, selanjutnya didinginkan. Absorbansi destilat diukur pada panjang gelombang 528 nm dengan larutan blanko sebagai titik nol. Larutan blanko dibuat dari ampuran 5 ml akuades ditambah 5 ml pereaksi TBA. Bilangan TBA dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Bilangan TBA (mg malonaldehida/kg) = 7.8 X absorbansi
9) Bilangan peroksida (NFT, 1995)
Kerupuk sebanyak 5 gram ditimbang dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml. Sebanyak 30 ml larutan asam asetat dan kloroform (3:2) ditambahkan. Larutan digoyangkan sampai bahan terlarut semua, lalu ditambahkan 0.5 ml larutan KI jenuh, didiamkan satu menit dan ditambahkan 30 ml akuades. Setelah itu larutan dititrasi dengan 0.1 N Na2S2O3 sampai warna kuning hilang lalu ditambahkan 0.5 ml larutan pati 1%. Titrasi dilanjutkan hingga warna biru hilang. Bilangan peroksida dinyatakan dalam mili-ekuivalen dari peroksida dalam setiap 100 g contoh:
ml Na2S2O3 X N thiosulfat X 1000
Bilangan peroksida (meq/kg) = Berat sampel (g)
NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
Ketua Pelaksana Kegiatan
Nama Lengkap : Devi Rizky Yuniani
Nim : J3E109061
Program Studi : Supervisor Jaminan Mutu Pangan
Perguruan Tinggi : Institut Pertanian Bogor
Waktu Untuk Kegiatan PKM : 12 Jam/Minggu
Anggota Pelaksana
1. Nama Lengkap : Laela Tunnaziroh
Nim : J3E409150
Program Studi : Supervisor Jaminan Mutu Pangan
Perguruan Tinggi : Institut Pertanian Bogor
Waktu Untuk Kegiatan PKM : 10 Jam/Minggu
2. Nama Lengkap : Bungaran Raymond Titus
Nim : J3E109009
Fakultas/ Program Studi : Supervisor Jaminan Mutu Pangan
Perguruan Tinggi : Institut Pertanian Bogor
Waktu Untuk Kegiatan PKM : 10 Jam/Minggu
3. Nama Lengkap : Muhammad Rafiq
Nim : J3E208128
Program Studi : Supervisor Jaminan Mutu Pangan
Perguruan Tinggi : Institut Pertanian Bogor
Waktu Untuk Kegiatan PKM : 6 Jam/Minggu
4. Nama Lengkap : Pipit Fitria Rahmawati
Nim : J3E208139
Program Studi : Supervisor Jaminan Mutu Pangan
Perguruan Tinggi : Institut Pertanian Bogor
Waktu Untuk Kegiatan PKM : 6 Jam/Minggu
NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING
1. Nama Lengkap dan Gelar : Ir. C.C. Nurwitri DAA.
2. Golongan Pangkat dan NIP : III D / 195805041985032001
3. Jabatan Fungsional : Lektor
4. Jabatan Struktural : Koordinator Program Keahlian Supervisor Jaminan Mutu Pangan
5. Fakultas/Program Studi : Teknologi Pertanian/ Ilmu dan Teknologi Pertanian
6. Perguruan Tinggi : Institut Pertanian Bogor
7. Bidang Keahlian : Mikrobiologi Pangan
8. Waktu Untuk Kegiatan PKM : 2 Jam/Minggu
Dosen Pendamping
(Ir. C.C. Nurwitri DAA.)
NIP. 195805041985032001
DAFTAR PUSTAKA
Lee, C. H. and C. Y. Rha , 1979. Microstructure of Soybean Protein Aggregates and
its Relation to the Physical and Textural Properties of the Curd. J. Food
Sci.
Koswara, S. , 1992. Teknologi Pengolahan Kedelai. Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta.
Shurfleff, W. and Aoyagi, 1977. The Book of Tafu. Autum Press, Massachussets.
Anglemier, A.E. and M. W. Montgomery, 1976. Amino Acids Peptides and
Protein. Mercil Decker Inc. , New York.
Winarno, F. G. dan A. Rahman, 1974. Protein: Sumber dan Peranannya.
Departemen Teknologi Hasil Pertanian , Bogor.
Sukardi, dkk. 1997. Substitusi Biji Turi dalam Pembuatan Kembang Tahu.
Malang : Unibraw. Dalam Habitat Volume 8 No. 100.
FG. Winarno. 1984. Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta : Gramedia.